PENINGKATAN HASIL DAN RETENSI BELAJAR MATERI SISTEM PEREDARAN DARAH MELALUI PENERAPAN METODE THINK-PAIR-SHARE DIPADU DENGAN METODE INDEX CARD MATCH PADA KELOMPOK SISWA BERKEMAMPUAN RENDAH-TINGGI DI KELAS VIII SMP

oleh ZULAIKHAH NURAINI, S.Pd
A.       PENDAHULUAN Pendidikan adalah investasi jangka panjang yang memerlukan usaha dan dana yang cukup besar, hal ini diakui oleh semua orang  atau suatu bangsa demi kelangsungan masa depannya. Sebagaimana dalam Undang-undang No 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional Bab 1 pasal 1 di nyatakan bahwa: “Pendidikan adalah usaha sadar dan rencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara”.

Pendidikan sudah diakui sebagai usaha sadar seseorang dalam mewujudkan berbagai potensi yang akan memberikan kualitas pendidikan yang baik, namun permasalahan rendahnya mutu pendidikan yang tercermin dari rendahnya rata-rata hasil belajar dan strategi yang digunakan guru dalam pembelajaran masih terlalu minim. Keberhasilan proses dan hasil belajar di kelas dipengaruhi oleh bebrapa faktor antara lain guru dan siswa. Sebagai guru biologi dituntut untuk dapat menciptakan variasi baru dalam mengajar agar dapat menarik minat dan aktivitas siswa. Pelajaran biologi termasuk pelajaran pokok dalam bidang IPA di SMP, proses belajar biologi adalah suatu yang bersifat eksplorasi serta menemukan bukan menghafal. Proses belajar biologi diperlukan strategi, bermacam pendekatan-pendekatan, metode, media, agar siswa lebih aktif belajar, mengasah daya ingat dan berbuat untuk memahami konsep biologi sehingga diharapkan hasil belajar siswa lebih baik.

Hasil wawancara dengan Guru Biologi kelas VIII E pada bulan November 2011 di SMPN 2 Purwodadi yang berjumlah 37 siswa (lampiran 4), dalam proses pembelajaran siswa kurang aktif. Berdasarkan nilai ulangan harian 30% hasil belajar siswa rendah, belum memenuhi standart kelulusan dengan nilai 70. Hasil belajar kurang optimal selain disebabkan oleh faktor internal dan eksternal yaitu didalam kelas terdapat dua kelompok siswa yang berkemampuan tinggi dan siswa berkemampuan rendah. Siswa berkemampuan rendah pada saat proses pembelajaran berlangsung tidak mendengarkan penjelasan guru dan ramai sendiri sehingga mengganggu siswa yang berkemampuan tinggi, dengan kondisi kelas yang kurang kondusif kemampuan siswa untuk memahami dan mengingat pelajaran yang telah disampaikan guru kurang optimal.

Berdasarkan hal tersebut, maka salah satu metode pembelajaran yang dipilih adalah motode Think-Pair-Share karena metode ini dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa waktu yang lebih untuk berpikir, menjawab dan saling membantu satu sama lain (Anggraini, 2009). Metode Think-Pair-Share dengan Metode Index Card Match. Metode Index Card Match adalah strategi pembelajaran yang menyenangkan dimana siswa dapat belajar mengenai konsep dengan cara mencari pasangan dan dikenal dengan istilah “mencari pasangan kartu”. Metode ini berpotensi membuat siswa senang.

Metode Think-Pair-Share yang dipadukan dengan Index Card Match merupakan salah satu alternatif yang dapat diterapkan kepada siswa. Guru memulai memberikan permasalahan yang harus dipecahkan oleh siswa dan berfikir sendiri-sendiri. Guru membagi siswa menjadi dua kelompok berdasarkan kemampuan akademiknya sehingga menjadi kelompok akademik tinggi 18 siswa dan kelompok akademik rendah 19 siswa. Guru membagikan kartu soal untuk siswa berkemampuan tinggi dan kartu jawaban untuk siswa berkemampuan rendah. Siswa diminta untuk mencari pasangannya  untuk menemukan kartu soal dan kartu jawaban yang benar dan secara bergantian membacakan soal yang diperoleh dengan keras untuk dijawab pasangan-pasangan yang lainnya. Penerapan strategi pembelajaran tersebut diharapkan dapat meningkatkan hasil dan retensi belajar siswa yang telah diperoleh dari pembelajaran yang telah diberikan.


  1. B.       TINJAUAN PUSTAKA

Metode Think-Pair-Share merupakan jenis metode pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan memiliki prosedur yang ditetapkan secara eksplisit untuk memberi siswa waktu yang lebih untuk berpikir, menjawab dan saling membantu satu sama lain (Anggraini, 2009). Keunggulan teknik ini adalah optimalisasi partisipasi siswa. Dengan metode klasikal yang memungkinkan hanya satu siswa maju, membagikan hasilnya untuk seluruh kelas, dan menunjukkan partisipasi mereka kepada orang lain (Lie, 2004). Adapun sintaks atau tahapan dalam pembelajarannya sebagai berikut:

Tabel 2.1 Sintaks Pembelajaran Metode Think-Pair-Share

Tahap

Tingkah Laku Guru

Tahap 1

Thinking

–        Guru mengajukan pertanyaan atau isu yang terkait dengan pelajaran untuk dipikirkan oleh siswa. Guru memberi kesempatan kepada siswa memikirkan jawabannya.

Tahap 2

Pairing

–  Guru meminta siswa untuk berpasang-pasangan dan memberi kesempatan kepada pasangan-pasangan tersebut untuk berdiskusi.

Diskusi diharapkan dapat memperdalam makna dari jawaban yang telah dipikirkan melalui intersubjektif dengan pasangannya

Tahap 3

Sharing

–  Hasil diskusi intersubjektif di tiap-tiap pasangan hasilnya dibicarakan dengan pasangan seluruh kelas.

(Sumber: Suprijono, 2009)

Menurut Hisyam, (2004) model Index Card Match (mencari pasangan) adalah metode yang cukup menyenangkan digunakan untuk mengulang materi yang telah diberikan sebelumnya. Namun demikian, materi barupun tetap bisa diajarkan dengan metode ini dengan catatan siswa diberi tugas mempelajari topik yang diajarkan terlebih dahulu, sehingga ketika masuk kelas siswa sudah memiliki bekal pengetahuan. Sedangkan menurut Curran dalam Lie (2002) Teknik belajar mencari pasangan yaitu siswa mencari pasangan sambil belajar mengenai suatu konsep atau topik dalam suasana yang menyenangkan. Metode “mencari pasangan kartu” cukup menyenangkan digunakan untuk mengulangi materi pembelajaran yang telah diberikan sebelumnya. Adapun sintaks atau tahapan dalam pembelajarannya sebagai berikut:

Tabel 2.2 Tahap metode Indext Card Match

Fase

Tingkah Laku Guru

Tahap 1

Guru membagikan potongan kertas sebanyak jumlah siswa yang ada dalam kelas. Separoh kertas berisikan soal dan separoh lagi berisikan jawaban materi yang akan diajarkan.

Tahap 2

Guru mengocok semua kertas sehingga akan tercampur antara soal dan jawaban dan Setiap siswa diberi satu kertas.

Tahap 3

Guru meminta kepada siswa untuk menemukan pasangan mereka. Siswa yang sudah menemukan pasangannya segera duduk berdekatan dan duduk deretan paling depan.

Tahap 4

Meminta kepada setiap pasangan secara bergantian untuk membacakan soal yang diperoleh dengan kertas kepada teman- temannya yang lain dan soal tersebut dijawab oleh pasangannya.

Tahap 5

Guru membimbing siswa dalam membuat klarifikasi dan kesimpulan.

(Sumber: Islamiah, 2010)

Perpaduan metode Think-Pair-Share yang dipadukan Index Card Match bertujuan agar siswa lebih semangat dalam menerima pelajaran dan dapat mengurangi ketegangan dalam proses belajar. Dasar pertimbangan yang lain memadukan metode Think-Pair-Share dan Index Card Match adalah 1) Segi inovasi dan peningkatan hasil belajar. Standart Think-Pair-Share pada tahap Pairing, siswa akan berpasangan dengan teman sebangku, tetapi dapat diinovasi dengan teman yang tidak sebangku misalnya: siswa berkemampuan tinggi dan berkemampuan rendah. 2) Mendongkrak kemampuan siswa tinggi dan rendah melalui penerapan metode perpaduan Think Pair Share dan Index Card Match.

Sintaks perpaduan Think-Pair-Share dengan Index Card Match seperti yang terlihat di bawah ini:

Tahap 1    : Memberikan permasalahan/pertanyaan yang berhubungan dengan materi sistem peredaran darah dan memberi waktu siswa untuk berfikir sendiri-sendiri untuk menjawab permasalahan yang telah diberikan oleh guru.

Tahap 2    : Membagi siswa menjadi dua kelompok berdasarkan kemampuan akademiknya sehingga menjadi kelompok akademik rendah-tinggi, membagi kartu soal untuk siswa berkemampuan tinggi dan kartu jawaban untuk siswa berkemampuan rendah.

Tahap 3    : Mengorganisasikan siswa untuk berpasangan dengan cara memadukan antara kartu soal dan kartu jawaban yang benar.

Tahap 4    : Bagi yang sudah menemukan pasangannya segera duduk sebangku dan duduk deretan paling depan, serta mendiskusikan soal dan jawaban dengan pasangannya.

Tahap 5    : Hasil diskusi pada tiap-tiap pasangan dikomunikasikan dalam forum kelas.

Tahap 6    : Guru bersama siswa membuat kesimpulan.

  1. C.       METODE  PENELITIAN

Jenis penelitian ini merupakan penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilakukan secara bersiklus, dengan menggunakan siklus model Kemmis dan Taggart (1990) yang mencakup kegiatan perencanaan, tindakan, observasi, refleksi atau evaluasi. Siklus-1 dalam penelitian ini tidak akan dilanjutkan kedalam siklus-2 apabila kriteria pencapaian siklus-1 sudah terpenuhi. Indikator terpenuhinya meliputi tiga kriteria yaitu: Pertama, proses pembelajaran sudah optimal yang diamati melalui proses pelaksanaan sintaks perpaduan antara Think-Pair-Share dengan Index Card Match (sintaks baru). Kedua, ketuntasan hasil belajar secara individu dan klasikal. Ketiga, retensi belajar siswa.

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Metode Observasi dan metode Tes. Instrument penelitian yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah lembar observasi selama pelaksanaan penelitian tindakan kelas, lembar observasi aktivitas guru, lembar observasi aktivitas siswa, lembar soal tes dan kisi-kisi soal untuk mengukur hasil dan retensi belajar siswa


Tabel 3.1 Keterkaitan data, metode pengambilan data, dan instrument penelitian

Data

Metode Pengambilan Data

Instrument

Jenis Data

Proses Pembelajaran Observasi Lembar Observasi Kualitatif
Hasil Belajar Tes Lembar Tes Formatif Kuantitatif

Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan langkah-langkah sebagai berikut:

  1. Analisis Proses Pembelajaran

Analisis deskriptif kualitatif dilakukan dengan cara menganalisis data dari lembar observasi aktivitas guru dan aktivitas siswa serta catatan lapang yang telah diberikan kepada observe pada saat proses pembelajaran berlangsung.

  1. Hasil dan Retensi Belajar

Penskoran hasil tes akhir siswa dilakukan dengan menganalisis jawaban pada lembar tes formatif siswa dengan pedoman kunci jawaban yang sudah disiapkan. Skor yang sudah diperoleh kemudian diubah menjadi nilai dengan menggunakan acuan kriterium (menggunakan PAP) digunakan rumus sebagai berikut:

(Gambar 3.3, Rumus Ketuntasan Individu, Sumber: Sudijono, 2008)

Hasil belajar siswa merupakan nilai akhir rata-rata dari nilai proses dan produk. Hasil belajar dikatakan berhasil bila siswa telah menunjukkan adanya peningkatan hasil pembelajaran dari siklus tindakan pertama sampai siklus berikutnya. Menurut Mulyasa (2009), kriteria keberhasilan jangka pendek adalah sekurang-kurangnya 75% isi dan prinsip-prinsip pembelajaran dapat dipahami, diterima dan diterapkan oleh para siswa dan guru dikelas. Rumus untuk mengetahui ketuntasan klasikal adalah sebagai berikut:

 

 

(Gambar 3.4 Rumus Ketuntasan Klasikal)

Keterangan : m = ∑ siswa yang memperoleh nilai di atas KKM

M = ∑ seluruh siswa yang mengikuti tes

Dikatakan berhasil apabila 70% dari jumlah siswa dikelas memiliki ketuntasan individu ≥ SKM yaitu 70. Kriteria ketuntasan klasikal dapat dilihat pada tabel 3.2 berikut.

Tabel 3.2 Kriteria Ketuntasan Klasikal

No.

Rentangan Persentase (%)

Kategori

1

  85 – 100 %

Sangat Baik

2

70 – 84%

Baik

3

55 – 69%

Cukup

4

40 – 54%

Kurang

5

0 – 39%

Sangat Kurang

(Gambar 3.5 Retensi Belajar )

Untuk menguji retensi belajar dengan menggunakan cara dua kali tes yaitu: tes pertama sesaat setelah proses pembelajaran dan tes kedua dilakukan setelah empat hari pelaksanaan tes pertama. Adapun skema pelaksanaan seperti gambar 3.7 Skema rancangan :

  1. D.       HASIL DAN PEMBAHASAN

Penerapan pembelajaran TPS yang dipadukan dengan ICM yang berlangsung dalam setiap siklus pada penelitian ini ditemukan adanya beberapa kejadian yang menarik sebagaimana berikut yaitu: (1) guru memberikan tiga pertanyaan untuk siswa pada siklus-1 karena keterbatasan waktu siswa tidak diberikan waktu untuk berfikir sendiri-sendiri, sedangkan pada siklus-2 guru sudah bisa mengatur waktu untuk memberikan waktu berfikir siswa; (2) saat guru membagi siswa menjadi dua kelompok berdasarkan kemampuan akademik rendah-tinggi, siswa masih kebingungan untuk mencari kelompoknya pada siklus-1, sedangkan siklus-2 siswa tidak perlu bertanya lagi dan terlihat santai mencari pasangannya; (3) mengorganisasikan siswa untuk berpasangan dengan kelompok rendah-tinggi untuk mencari pasangannya dan mencocokkan kartu jawaban dan soal dengan benar, siklus-1 pada tahap ini ada dua kelompok yang salah mencocokkan kartu jawaban dan soal, sedangkan siklus-2 semua kelompok dalam berpasangan sudah dapat mencocokkan kartu soal-jawaban dengan benar; (4) bagi yang sudah menemukan pasangannya segera menduduki deretan paling depan untuk berdiskusi, siklus-1 ada beberapa siswa yang kurang aktif dan malu-malu ketika berpasangan dengan teman lawan jenis tetapi tidak sedikit pula yang memiliki kerjasama yamng baik antarpasangan, sedangkan siklus-2 siswa sudah terbiasa untuk berpasangan mendiskusikan kartu jawaban-soal dengan benar; (5) hasil diskusi pada tiap-tiap pasangan dikomunikasikan dalam forum kelas, siklus-1 siswa terlihat masih malu-malu saat mempresentasikan hasil diskusinya, sedangkan siklus-2 siswa sudah berani dan tidak malu-malu lagi dalam presentasi; (6) siklus-1 guru belum memberikan kesempatan siswa untuk membuat kesimpulan sendiri, sedangkan siklus-2 guru memberikan kesempatan siswa untuk menyimpulkan dan guru yang menyempurnakan kesimpulan siswa.

Tes formatif, pada siklus-1 saat melakukan tes formatif untuk mengukur hasil belajar masih ada beberapa siswa yang menyepelekan tes yang diberikan oleh guru, kemudian pada saat tes formatif untuk mengukur retensi siswa banyak yang bertanya “mengapa soal tesnya sama dengan soal tes yang sebelumnya” sehingga guru memberikan penjelasan. Sedangkan siklus-2 siswa pada saat mengerjakan tes formatif untuk hasil belajar siswa terlihat lebih serius mengerjakan dan pada tes formatif untuk retensi siswa sudah tidak merasa kaget dan tidak bertanya lagi.

Penerapan pembelajaran metode TPS yang dipadukan dengan ICM pada kelas VIII E SMPN 2 Purwodadi diawali dengan memberikan pertanyaan yang dituliskan dipapan tulis terkait materi sistem peredaran darah dan merupakan tahap Think. Pembelajaran yang diawali dengan pertanyaan memberi waktu siswa untuk berfikir, menjawab dan saling membantu satu sama lain (Anggraini, 2009). Penerapan pembelajaran seperti ini memberikan pengalaman belajar kepada siswa untuk berpikir berdasarkan pengalaman mereka sehari-hari, dan berdiskusi. Dengan demikian, pembelajaran seperti ini bersifat sangat berpusat pada siswa dan hal ini menyebabkan siswa menjadi sangat aktif dalam dan memberikan suasana yang tidak membosankan pada kegiatan pembelajaran.

Grafik 4.5 Perbandingan Persentase Aktivitas Guru pada

 siklus-1 dan siklus-2

Tahapan-tahapan dalam Pembelajaran metode TPS yang dipadukan dengan metode ICM telah terlaksana dengan baik sesuai dengan sintaks yang diaplikasikan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Hal ini terbukti dengan adanya peningkatan persentase kinerja guru selama pembelajaran di siklus 1 pertemuan pertama sebesar meningkat 75% menjadi 87,45% di siklus 2. Hal ini disebabkan karena guru sudah memiliki pengalaman dalam mengikuti tahapan-tahapan Pembelajaran Kooperatif metode TPS yang dipadukan dengan metode ICM,sehingga aktivitas dan kinerjanya meningkat dibandingkan dengan siklus 1. Untuk perbandingan persentase aktivitas guru dari pelaksanaan siklus-1 dan siklus-2 dapat dilihat pada Grafik 4.9.

Persentase aktivitas siswa selama pembelajaran di siklus 1 pertemuan pertama sebesar 71,4% meningkat menjadi 87,5% di siklus 2.  Hal ini disebabkan siswa sudah memiliki pengalaman dalam mengikuti tahapan-tahapan Pembelajaran Kooperatif metode TPS yang dipadukan dengan metode ICM. Untuk perbandingan persentase aktivitas guru dari pelaksanaan siklus-1 dan siklus-2 dapat dilihat pada grafik 4.10.

Grafik 4.6 Perbandingan Persentase Aktivitas Siswa pada

siklus-1 dan siklus-2

 

 

Terlihat kemajuan siswa dari awal pelaksanaan siklus-1 hingga siklus-2, baik aktivitas guru maupun aktivitas siswa juga terus meningkat. Keunggulan dalam pembelajaran ini adalah optimalisasi partisipasi siswa, yaitu memberi kesempatan siswa untuk berfikir sendiri-sendiri untuk memecahkan masalah yang diberikan oleh guru, dilanjutkan dengan berpasangan mencocokkan kartu jawaban dan kartu soal dengan benar, berdiskusi dalam forum kelas dan memberikan kesimpulan.

  1. Peningkatan hasil belajar

Berdasarkan nilai tes formatif di siklus 1 Tabel 4.1 menunjukkan bahwa pada siswa akademik tinggi, nilai rata-rata kelas kemampuan siswa dalam menyelasikan soal tes formatif sebesar 66,9 dengan total siswa yang nilainya di atas KKM (> 70) sebanyak 9 anak, sedangkan 9 siswa lainnya memperoleh skor tes formatif berada di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM) yaitu < 70. Berdasarkan pada Tabel 4.6 dapat diketahui ketuntasan klasikal siswa adalah 70% dari 18 siswa yaitu 9 anak karena presentase ketuntasan belajar siswa berkemampuan tinggi di siklus 1 sebesar 50% < 70%. Pada siswa berkemampuan rendah Tabel 4.3, nilai rata-rata kelas kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal tes formatif sebesar 43,9 dengan total siswa yang nilainya di atas KKM (> 70) sebanyak 1 anak, sedangkan 18 siswa lainnya memperoleh skor tes formatif berada di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM) yaitu < 70. Berdasarkan pada Tabel 4.4 dapat diketahui ketuntasan klasikal siswa adalah 70% dari 19 siswa yaitu 1 anak karena presentase ketuntasan belajar siswa di siklus 1 sebesar 5,26% < 70%.

Skor tes formatif di siklus-2 meningkat bisa dilihat di tabel 4.8 dan tabel 4.9 menunjukkan bahwa  nilai rata-rata kelas siswa berkemampuan tinggi dalam menyelesaikan soal tes formatif sebesar 79,7 dengan total siswa yang nilainya di atas KKM (> 70) sebanyak 16 anak, sedangkan 2 siswa lainnya memperoleh skor tes formatif berada di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM) yaitu < 70. Untuk ketuntasan klasikal siswa adalah 70% dari 18 siswa yaitu 16 anak karena presentase ketuntasan belajar siswa berkemampuan tinggi di siklus 1 sebesar 88,89% > 70% . Pada siswa akademik rendah, nilai rata-rata kelas kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal tes formatif sebesar 71 dengan total siswa yang nilainya di atas KKM (> 70) sebanyak 16 anak, sedangkan 3 siswa lainnya memperoleh skor tes formatif berada di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM) yaitu < 70 Berdasarkan pada Tabel 4.11 dapat diketahui ketuntasan klasikal siswa adalah 70% dari 19 siswa yaitu 16 anak karena presentase ketuntasan belajar siswa di siklus 2 sebesar 84% > 70%. Agar lebih jelas berikut adalah perbandingan hasil belajar pada siklus 1 dan siklus 2 pada tabel 4.15.

Tabel 4.15 Rerata Kelas Hasil Belajar Siswa pada Siklus 1 dan Siklus 2

Kelompok

Nilai

Peningkatan

Siklus 1

Siklus 2

Tinggi

66,9

79,7

12,8%

Rendah

43,9

71

27,1%

Berdasarkan perbandingan persentase skor hasil belajar pada tabel 4.14 dapat diketahui bahwa hasil belajar siswa pada pembelajaran metode TPS yang dipadungan dengan ICM mengalami peningkatan dari siklus 1 kelompok siswa berkemampuan tinggi skor 66,9 menjadi 79,7 pada siklus 2, peningkatannya 12,8%. Sedangkan kelompok siswa berkemampuan rendah dengan skor 43,9 menjadi 71 pada siklus 2, peningkatannya 27,1%. Terjadinya peningkatan siklus-1 ke siklus-2 karena adanya variasi perpaduan metode TPS dengan ICM yaitu: 1) siswa yang berakademik tinggi dapat membantu siswa yang berakademik rendah; 2) memberi siswa waktu yang lebih banyak untuk berfikir, menjawab dan saling membantu satu sama lain. Perbandingan hasil belajar siswa pada siklus-1 dan siklus-2 dapat dilihat pada grafik 4.7 berikut.

Grafik 4.7 Perbandingan Hasil Belajar Siswa

Siklus-1 dan siklus-2

  1. Peningkatan Retensi Belajar Siswa

Menurut  Satyananda dan Irawati (2011) tes retensi dilaksanakan dua minggu setelah pembelajaran dan hasilnya daya retensi siswa meningkat, sedangkan berdasarkan penelitian Qomariah (2011) tes retensi dilakukan dengan selang waktu empat hari setelah tes formatif pertama dengan soal yang sama. Peneliti memberikan tes formatif yang sama dengan selang waktu empat hari, hal ini berdasarkan penelitian Qomariah (2011), kebiasaan dari sekolah setelah proses pembelajaran selesai langsung diberikan tes formatif dan mengikuti jadwal pelajaran biologi di sekolah bila lebih dari empat hari sudah melanjutkan materi biologi bab berikutnya. Siswa tidak perlu diberi tahu kalau tes yang diberikan soalnya sama.

Pada siklus 1 (Tabel 4.5) nilai tes formatif siswa berkemampuan tinggi yang retensinya meningkat semua siswa mencapai ketuntasan 100%. Pada kelompok siswa berkemampuan rendah (Tabel 4.6) retensi semua meningkat, tetapi ada 11 siswa yang belum tuntas. Pada siklus 2 (Tabel 4.12) nilai tes formatif siswa akademik tinggi retensi siswa mengalami peningkatan ketuntasan 100%, sama halnya retensi kelompok siswa berkemampuan rendah mengalami peningkatan ketuntasan 100% dan tuntas.

Tindakan penerapan Pembelajaran Kooperatif metode TPS yang dipadukan dengan metode ICM Kelompok siswa berkemampuan rendah-tinggi dengan pemberian permasalahan berupa kartu soal dan jawaban, siswa lebih terangsang untuk mencocokan jawaban yang benar dan mengembangkannya. Metode ini menunjang siswa untuk memiliki daya ingat yang kuat karena dengan adanya kartu soal dan jawaban yang terpisah siswa lebih aktif untuk mencocokan jawaban yang benar. Agar lebih jelas berikut adalah perbandingan hasil belajar pada siklus 1 dan siklus 2 pada tabel 4.16.

Tabel 4.16 Skor Retensi Belajar Siswa pada Siklus 1 dan Siklus 2

Kelompok

Nilai

Peningkatan

Siklus 1

Siklus 2

Tinggi

92,7

93,3

0,6%

Rendah

67,6

85,5

17,9%

Berdasarkan perbandingan persentase skor hasil belajar pada tabel 4.16 dapat diketahui bahwa hasil belajar siswa pada pembelajaran metode TPS yang dipadungan dengan ICM mengalami peningkatan dari siklus 1 kelompok tinggi skor 92,7 menjadi 93,3 pada siklus 2, peningkatannya 0,6%. Sedangkan kelompok rendah dengan skor 67,6 menjadi 85,5 pada siklus 2, peningkatannya 17,9%.  Perbandingan retensi belajar siswa pada siklus-1 dan siklus-2 dapat dilihat pada grafik 4.8 berikut.

Grafik 4.8 Perbandingan Retensi Belajar Siswa

Siklus-1 dan Siklus-2

 

 

 

 

 

 

 

  1. E.       KESIMPULAN

Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa:

  1. Penerapan pembelajaran kooperatif metode Think-Pair-Share (TPS) yang dipadukan dengan metode Index Card Match (TPS) untuk peningkatan hasil dan retensi belajar berdasarkan sintaks sebagai berikut: (1) memberikan permasalahan yang terkait dengan materi dan memberi waktu siswa untuk berfikir sendiri-sendiri; (2) membagi siswa menjadi dua kelompok berdasarkan kemampuan akademiknya sehingga menjadi kelompok akademik rendah-tinggi, membagi kartu soal untuk siswa berkemampuan tinggi dan kartu jawaban untuk siswa berkemampuan rendah; (3) mengorganisasikan siswa untuk berpasangan dengan cara memadukan antara kartu soal dan kartu jawaban yang benar; (4) bagi yang sudah menemukan pasangannya segera duduk sebangku dan duduk deretan paling depan, serta mendiskusikan soal dan jawaban dengan pasangannya; (5) hasil diskusi pada tiap-tiap pasangan dikomunikasikan dalam forum kelas; (6) guru bersama siswa membuat kesimpulan.
  2. Peningkatan hasil dan retensi belajar melalui penerapan pembelajaran kooperatif metode TPS yang dipadukan dengan metode ICM dapat disimpulkan sebagai berikut:
  3. Skor hasil belajar pada siklus-1 kelompok tinggi mencapai 66,9 meningkat menjadi 79,7 pada siklus-2, sehingga peningkatannya sebesar 12,8%. Sedangkan pada siklus siklus-1 kelompok rendah mencapai 43,9 meningkat menjadi 71 pada siklus-2, sehingga peningkatannya sebesar 27,1%.
  4. Skor retensi belajar pada siklus-1 kelompok tinggi mencapai 92,7 menjadi 93,3 pada siklus-2, sehingga peningkatannya sebesar 0,6%. Sedangkan pada siklus siklus-1 kelompok rendah mencapai 67,6 meningkat menjadi 85,5 pada siklus-2, sehingga peningkatannya sebesar 17,25%.
  1. F.   DAFTAR PUSTAKA

Anggraini, Iin. 2009.Penerapan Pembelajaran Kooperatif Model TPS (Think-Pair-Share) Untuk Meningkatkan Hasil Belajar Biologi. Skripsi. Surakarta: UMS. (Online), http://www.Pembelajaran TPS.com, Diakses 13 November 2011.

Hisyam, Zaini dkk. 2004. Strategi Pembelajaran Aktif (Center of Teaching Staff Develompent). Yogyakarta : IAIN Sunan Kalikaga.

Islamiah, Nurul. 2010. Peningkatan Motivasi Belajar IPS Melalui Pembelajaran Kooperatif Index Card Match. Skripsi. Surakarta: FKIP Universitas Sebelas Maret

Lie, Anita. 2002. Cooperative Learning, Mempraktikkan Coopertaif di Ruang-Ruang Kelas. Jakarta: Gramedia Widyasarana Indonesia.

Lie, A. 2004. Cooperative Learning. Jakarta: Gramedia Widyasarana Indonesia.

Qomariah, Siti. 2011. Penerapan Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share Kelompok Rendah Tinggi dan Pemberian Tugas Terstruktur untuk Peningkatan Retensi dan Pemahaman Konsep IPA pada Siswa Berkemampuan Rendah di Kelas V SD Muhammadiyah VIII Malang. Malang: Jurusan Pendidikan Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam. UMM.

Satyananda dan Irawati.  2011. Pengembangan Materi Program Instruksional  Sebagai suatu Perangkat Pembelajaran Kooperatif dalam Upaya Meningkatkan Penguasaan Konsep Matematika pada Perkuliahan MAU4O9 Teori Bilangan. Malang: Jurusan Matematika FMIPA Universitas Negeri Malang

Sudijono, Anas. 2008. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada

Suprijono, Agus. 2009. Cooperative Lerning Teori & Aplikasi Paikem. Surabaya: Pustaka Belajar

 

Iklan