Abstrak

Pembelajaran  IPA bertujuan untuk  pemberian pengalaman langsung dalam mengembangkan kompetensi agar siswa mampu menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan sains diarahkan untuk “mencari tahu” dan “berbuat” sehingga dapat membantu siswa untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar. Pembelajaran kooperatif type Think pair and share (TPS). Secara umum, langkah-langkahnya adalah: (1) Guru menyampaikan inti materi dan kompetensi yang ingin di capai (2) Siswa diminta untuk memikirkan materi/permasalahan yang disampaikan guru (3) Siswa diminta berpasangan dengan teman sebelahnya (1 kelompok 2 orang) dan mengutarakan hasil pemikiran masing-masing (4) Guru memimpin pleno kecil diskusi,tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya, (5) Berawal dari keterangan tersebut, Guru mengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah materi yang belum diungkapkan para siswa. (6) Guru memberikan kesimpulan, (7) penutup. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilaksanakan dapat disimpulkan sebagai berikut: Bahwa pembelajaran kooperatif type Think pair and share (TPS) dapat meningkatkan hasil belajar materi pemisahan campuran pada siswa kelas VII E di SMP Negeri 1 Kwanyar Bangkalan yaitu dengan ketuntasan belajar siswa secara klasikal pada KBM putaran 1 sebesar 80,9 %, KBM putaran 2 sebesar 85,7%. Dan Pembelajaran kooperatif type Think pair and share (TPS) dapat meningkatkan aktifitas siswa materi pemisahan campuran pada siswa kelas  VII E di SMP Negeri 1 Kwanyar Bangkalan sehingga suasana KBM tidak lagi berpusat pada guru namun sudah berpusat pada siswa.

Kata Kunci: Hasil Belajar, Pembelajaran kooperatif type Think pair and share (TPS)

 Pendahuluan

Pembelajaran  IPA bertujuan memberian pengalaman langsung dalam mengembangkan kompetensi agar siswa mampu menjelajahi dan memahami alam sekitar secara ilmiah. Pendidikan sains diarahkan untuk “mencari tahu” dan “berbuat” sehingga dapat membantu siswa untuk memperoleh pemahaman yang lebih mendalam tentang alam sekitar (Depdiknas, 2005). Hal ini juga terjabarkan pada standar kompetensi  nomor 1, yaitu memahami prosedur ilmiah untuk mempelajari benda-benda alam dengan menggunakan peralatan.

Berdasarkan hasil pengamatan peneliti tanggal 24 Oktober 2011  sewaktu melaksanakan pembelajaran materi Pemisahan campuran: (1) Sebagian besar siswa kelas VII C tidak dapat menjawab soal pada materi  pemisahan campuran yang diberikan oleh guru dan kelihatan malas mengikuti pelajaran yang sedang berlangsung, (2) Suasana kelas VII C ramai dan agak gaduh karena mendengar ada siswa yang salah dalam menjawab soal yang diberikan guru secara lisan. (3) Hasil belajar materi pemisahan campuran yaitu nilai rata-rata yang dicapai siswa hanya mencapai 72,00 dibawah kreteria ketuntasan minimal 75,00. Selain keempat hal tersebut, diketahui pula bahwa hanya 17 siswa (41,5 %) mencapai nilai 75-100 dan  24 siswa  ( 58,5 % ) yang mencapai nilai di bawah 75.  Kriteria ketuntasan minimal atau KKM yang ditentukan oleh SMP Negeri 1 Kwanyar adalah 75,00 dengan  ketuntasan belajar 85% secara klasikal. Nilai rata-rata yang dicapai siswa hanya mencapai 72,00 dibawah standar ketuntasan minimal.

Berdasarkan hasil pengamatan di atas, masalah yang paling penting dan mendesak untuk segera dipecahkan adalah rendahnya hasil belajar siswa dalam melakukan pemisahan campuran dengan berbagai cara berdasarkan sifat fisika dan sifat kimia. Hal ini diduga karena peneliti kurang tepat dalam pemilihan cara dan  model pembelajaran.

   Berdasarkan hasil identifikasi masalah, peneliti membatasi masalah yang akan segera dipecahkan yaitu hasil belajar siswa rendah yakni nilai rata-rata yang dicapai siswa hanya mencapai 72,00 dibawah kreteria ketuntasan minimal 75,00. Dengan demikian rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut:“ Apakah penerapan pembelajaran model kooperatif type think pair and share ( TPS ) dapat meningkatkan hasil belajar materi pemisahan campuran pada siswa kelas VII E SMP Negeri 1 Kwanyar Bangkalan?”

Untuk memecahkan masalah rendahnya hasil belajar pemisahan campuran  di SMP Negeri 1 Kwanyar Bangkalan, maka peneliti melaksanakan penerapan pembelajaran model Kooperatif type think pair and share ( TPS). Indikator keberhasilan  tindakan perbaikan pembelajaran dinyatakan berhasil apabila 85% siswa telah  menguasai kriteria ketuntasan minimal ( KKM)  yang telah di tetapkan, yaitu 75,00.

Sejalan dengan rumusan masalah, tujuan penelitian  ini adalah upaya untuk menigkatkan hasil belajar materi pemisahan campuran pada siswa kelas VII E SMP Negeri 1 Kwanyar Bangkalan

Seperti pendapat para ahli dan peneliti sebelumnya dapat dikatakan ”Jika pembelajaran dengan model kooperatf type think pair and share ( TPS )  disertai LKS dapat meningkatkan hasil belajar materi pemisahan campuran pada siswa kelas VII E di SMP Negeri 1 Kwanyar Bangkalan ”, Indikator keberhasilan  tindakan perbaikan pembelajaran dinyatakan berhasil apabila 85% siswa telah  menguasai kriteria ketuntasan minimal ( KKM)  yang telah di tetapkan, yaitu 75,00.

 

METODE PENELITIAN

 Rancangan Penelitian

Penelitian ini dirancang dalam dua siklus, tiap siklus terdiri dari dua kali pertemuan. Setiap pertemuan terdiri dari dua jam pelajaran yang masing-masing jam pelajaran terdiri dari 40 menit. Tahapan-tahapan setiap siklusnya terdiri dari perencanaan, pelaksanaan tindakan, pengamatan, dan refleksi.

Berikut tahapan siklus I

  1. 1.    Perencanaan

Sebelum pembelajaran dilakukan, peneliti menyusun rancangan pembelajaran yang terdiri dari perangkat pembelajaran (silabus, RPP, dan lembar kegiatan siswa) dan instrumen penelitian yang berupa tes (tes ulangan harian) dan nontes (lembar observasi).

  1. 2.    Pelaksanaan tindakan

Penelitian dilaksanakan pada saat kegiatan belajar mengajar. Dalam kegiatan ini guru berpedoman pada rencana yang telah dibuat dan dilaksanakan selama dua kali pertemuan (setiap pertemuan dua jam pelajaran). Langkah-langkah pelaksanaan sebagai berikut.

–       Pertemuan kesatu (2 x 40 menit)

Indikator: 1. Peserta didik mampu menjelaskan dasar pemisahan campuran berdasarkan ukuran partikel.

  1. Peserta didik mampu melakukan percobaan penjernihan air dengan alat sederhana.

Langkah-langkah:

1). Memotivasi siswa melalui pertanyaan:’Bagaimana cara mengubah air kotor menjadi air bersih.?, kemudian’ Alat apa yang digunakan untuk menjernihkan air itu. ?

2). Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.

3). Guru menyajikan informasi tentang pemisahan campuran.

4). Guru menyarankan agar siswa tetap pada bangkunya masing-masing.

5). Guru membagikan LKS pada masing masing kelompok.(1 kelompok terdiri dari 2 orang).

6). Setiap bangku mengambil alat dan bahan yg telah di persiapkan.

7). Siswa dalam setiap kelompok melakukan eksperimen sesuai dengan langkah kerja yang telah ada dalam LKS.

8). Guru memeriksa eksperimen yang dilakukan siswa apakah sudah dilakukan dengan benar atau belum. Jika masih ada siswa atau kelompok yang belum dapat melakukannya dengan benar, guru dapat langsung memberikan bimbingan.

9). Siswa mempresentasikan hasil kerja ke  depan kelas.

10). Guru menanggapi hasil diskusi kelompok dan memberikan informasi yang sebenarnya.

11). Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang memiliki kinerja dan kerjasama yang baik.

12). Siswa diminta untuk mengerjakan tes tulis.

–   Pertemuan kedua (2 x 40 menit)

Indikator: Peserta didik mampu melakukan percobaan untuk memisahkan campuran dengan metode kromatografi.

Langkah-langkah:

1). Memotivasi siswa melalui pertanyaan:’Warna hitam merupakan campuran beberapa warna.?, kemudian’ Bagaimana cara pemisahan warna hitam menjadi warna-warna penyusunnya.?

2). Guru menyampaikan tujuan pembelajaran.

3). Guru menyajikan informasi tentang pemisahan campuran metode kromatografi.

4). Guru menyarankan agar siswa tetap pada bangkunya masing-masing.

5). Guru membagikan LKS pada masing masing kelompok.(1 kelompok terdiri dari 2 orang).

6). Setiap bangku mengambil alat dan bahan yg telah di persiapkan.

7). Siswa dalam setiap kelompok melakukan eksperimen sesuai dengan langkah kerja yang telah ada dalam LKS.

8). Guru memeriksa eksperimen yang dilakukan siswa apakah sudah dilakukan dengan benar atau belum. Jika masih ada siswa atau kelompok yang belum dapat melakukannya dengan benar, guru dapat langsung memberikan bimbingan.

9). Siswa mempresentasikan hasil kerja ke  depan kelas.

10). Guru menanggapi hasil diskusi kelompok dan memberikan informasi yang sebenarnya.

11). Guru memberikan penghargaan kepada kelompok yang memiliki kinerja dan kerjasama yang baik.

12). Siswa diminta untuk mengerjakan tes tulis.

  1. 3.    Pengamatan                                                                                                 

Pada kegiatan pembelajaran berlangsung, peneliti dibantu teman guru sebagai pengamat yang mengamati jalannya proses pembelajaran baik dari segi aktivitas guru maupun siswa.

  1. 4.    Refleksi

Berdasarkan lembar observasi dapat diketahui dan dianalisis kekurangan atau kelemahan yang dilakukan guru saat pembelajaran berlangsung.

 

Subjek Penelitian

Subjek penelitian tindakan kelas ini adalah Siswa kelas: VIIE, Semester: 1, Tahun pelajaran: 2013-2014, Tempat: SMP Negeri 1 Kwanyar, Alamat Sekolah: Jl.Raya Dlemer 08 Kwanyar, Jumlah Siswa: 16 laki-laki dan 26 perempuan, Alasan peneliti mengambil kelas VIIE karena peneliti mengajar di kelas VIIE dan di kelas ini ada masalah.

Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari:

  1. Tes

Tes tulis yang diadakan setiap akhir siklus. Bentuk tes yang digunakan objektif dan subjektif.

  1. Non Tes

2.1     Lembar observasi: lembar observasi atau lembar pengamatan berisi tentang kegiatan guru dan siswa selama kegiatan penbelajaran berlangsung

2.2     Angket siswa: angket siswa digunakan untuk memperoleh data tentang persepsi dan tanggapan siswa terhadap bahan, konsep-konsep, serta penggunaan model pembelajaran yang diterapkan guru.

Teknik pengumpulan data

Data yang dikumpulkan dari instrumen:

  1. Tes berupa nilai ulangan harian
  2. Non tes

2.1    Lembar observasi: berupa data pengamatan tentang kegiatan guru dan siswa yang akan dibuat kesimpulan.

2.2    Angket siswa: berupa data angket yang akan dibuat kesimpulan tiap siswa.

 

Teknik Penganalisaan Data

Dalam penelitian ini digunakan teknik analisis data deskriptif kualitatif yang digunakan untuk mengetahui persentase peningkatan hasil belajar siswa, persentase aktivitas guru dan siswa dalam pembelajaran sehingga dapat diambil suatu kesimpulan.

  1. Data Tes

Dalam penelitian ini jumlah soal yang di teskan sebanyak 25 butir soal dengan kreteria 30% mudah, 50% sedang dan 20% sukar dan soal ini selalu dipakai setiap kali mengajar materi pemisahan campuran. Ketuntasan belajar di SMP Negeri 1 kwanyar pada mata pelajaran IPA, materi pemisahan campuran adalah 75, jika siswa memperoleh nilai 75 maka siswa tersebut dikatakan tuntas dalam belajarnya.

Sedangkan secara klasikal dianggap tuntas dalam belajar apabila siswa yang tuntas mencapai 85% dari jumlah siswa. Yang rumusnya sebagai berikut;

 

Prosentase ketuntasan =

 

 

 

 

 

Dengan : ∑N  = Jumlah siswa yang tuntas

∑Y = Jumlah siswa dalam kelas

  1. Data Non Tes

2.1              Pengamatan pengelolaan pembelajaran

Data yang diperoleh dari instrumen pengamatan pengelolaan pembelajaran selanjutnya dianalisa dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

∑ nilai pengamatan

N  =

17

N = nilai pengelolaan pembelajaran

 

Kemudian dicocokkan dengan skala penilaian:

1 = Kurang baik; 2 = Cukup baik; 3 = baik; 4 = Sangat baik

 

2.2              Angket siswa

Angket siswa merupakan sejumlah pertanyaan yang digunakan untuk memperoleh data tentang persepsi siswa dan respon siswa terhadap bahan pelajaran dan penggunaan strategi maupun metode selama kegiatan belajar mengajar yang ditetapkan guru. Untuk menganalisis angket siswa dilakukan dengan penghitungan prosentase siswa yang menjawab pilihan yang tersedia. Data yang diperoleh dari instrumen angket siswa dianalisa sebagai berikut:

 

 

∑ jawaban

N  =                                         x 100 %

∑ seluruh siswa

 

N = Tanggapan siswa tentang pelaksanaan pembelajaran

 

 

 

Hasil dan Analisis Kegiatan Pengamatan

  1. 1.    KBM Siklus I

1.1 Data Tes

Diakhir siklus 1 kemudian diadakan tes dan hasilnya adalah dari 42 siswa yang nilaianya diatas KKM sebanyak 34 siswa atau 80,9% dan ada 8 siswa atau 19,1% yang nilainya dibawah KKM.

 

1.2    Data Non tes

Berdasarkan pengamatan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh observer diperoleh hasil sebagai berikut:

  1. Siswa kurang antusias/ tidak termotivasi dan masih takut mengemukakan pendapatnya selama diskusi kelas.
  2. Selama KBM dan diskusi kelas guru tidak merata dalam memberikan kesempatan bertanya dan menjawab, yaitu yang bertanya dan menjawab hanya siswa yang berkemampuan tinggi saja.
  3. Pelaksanaan KBM tidak sesuai dengan alokasi waktu yang direncanakan.

 

  • Refleksi dan analisis :

Berdasarkan  pelaksanaan KBM siklus I dan nilai yang diperoleh siswa, maka dapat dianalisis dan direfleksikan sebagai berikut :

  1. Siswa kurang antusias/ tidak termotivasi dan masih takut mengemukakan pendapatnya selama diskusi kelas.
  2. Selama KBM dan diskusi kelas guru tidak merata dalam memberikan kesempatan bertanya dan menjawab, yaitu yang bertanya dan menjawab hanya siswa yang berkemampuan tinggi saja.
  3. Pelaksanaan KBM tidak sesuai dengan alokasi waktu yang direncanakan.

 

Berdasarkan analisis nilai diatas, maka ketuntasan belajar yang dicapai secara klasikal pada KBM putaran 1 adalah sebesar 80,9 %, dalam hal ini terdapat 8 siswa yang belum tuntas.

Pada KBM siklus 1 ini keaktifan siswa baik secara individu maupun dalam kelompok kurang begitu maksimal.

 

 

Revisi

Dari refleksi KBM siklus 1 maka diperlukan adanya revisi untuk dilaksanakan pada KBM siklus 2. Revisi yang dilakukan adalah sebagai berikut:

a. Guru lebih mendorong/memotivasisiswa untuk lebih aktif selama KBM dan diskusi kelas dengan memberikan arahan supaya jangan sampai takut salah dalam mengemukakan pendapat.

b. Guru memberikan kesempatan yang merata kepada siswa dalam bertanya dan menjawab sehingga diskusi tidak didominasi oleh siswa yang pandai saja.

c. Guru menyesuaikan pelaksanaan KBM dengan alokasi waktu yang telah ditentukan dalam rencana pembelajaran.

 

 

  1. 2.    KBM Siklus 2

2.1 Data tes

Diakhir siklus 2 kemudian diadakan tes dan hasilnya adalah dari 42 siswa yang nilaianya diatas KKM sebanyak 36 siswa atau 85,7% dan ada 6 siswa atau 14,3% yang nilainya dibawah KKM.

2.2    Data Non tes

Berdasarkan pengamatan pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh observer diperoleh hasil sebagai berikut:

  1. Siswa masih takut mengemukakan pendapatnya selama diskusi kelas.
  2. Selama KBM dan diskusi kelas guru sudah merata dalam memberikan kesempatan bertanya dan menjawab
  3. Pelaksanaan KBM sudah sesuai dengan alokasi waktu yang direncanakan.

 

  • Refleksi dan analisis :

Berdasarkan hasil pengamatan pelaksanaan KBM siklus 2, terdapat sedikit kekurangan yaitu Siswa masih takut mengemukakan pendapatnya selama diskusi kelas, namun keaktifan siswa selama KBM siklus 2 ini sudah optimal yaitu aktifitas dalam belajar kelompok dan tidak ada lagi siswa yang melakukan kegiatan lain selain belajar.

Berdasarkan analisis hasil tes diakhir siklus 2 diatas, ketuntasan belajar yang dicapai secara klasikal pada KBM siklus 2 adalah sebesar 85,7 %, pada siklus ini terdapat 6 orang siswa yang belum tuntas dalam belajarnya, sedangkan soal yang kategori sukar masih banyak siswa yang belum dapat menjawab dengan benar.

Berdasarkan refleksi pada pelaksanaan KBM siklus 2 maka sesuai dengan komitmen didepan selain memantau ketuntasan belajar dipantau juga keaktifan siswa selama KBM sehingga penelitian hanya dilakukan sampai siklus 2. Revisi yang dilakukan yaitu dengan meminta siswa untuk tidak takut mengemukakan pendapatnya selama diskusi kelas.

 

2.3 Analisa Angket

Berdasarkan hasil angket siswa dapat diketahui respon siswa terhadap pelaksanaan KBM melalui pembelajaran kooperatif type TPS, 86 % dari jumlah siswa menyatakan YA bahwa motivasi belajar mereka lebih meningkat bila pelaksanaan KBM menggunakan model pembelajaran kooperatif type TPS, sedangkan untuk pemahaman siswa terhadap materi pemisahan campuran lebih mudah, respon siswa sebesar 83 %, sejalan dengan pelaksanaan KBM menggunakan pembelajaran kooperati type TPS dapat membuat siswa lebih aktif dalam belajar yaitu 90 %, dan pembelajaran ini juga perlu dilakukan pada materi lain yaitu: sebesar 71 %.

 

Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan sebagai berikut:

  1. Bahwa pembelajaran kooperatif type think pair and share (TPS) dapat meningkatkan hasil belajar materi Pemisahan campuran pada siswa kelas VII E di SMP Negeri 1 Kwanyar Bangkalan yaitu dengan ketuntasan belajar siswa secara klasikal pada KBM putaran 1 sebesar 80,9 %, KBM putaran 2 sebesar 85,7%.
  2. Pembelajaran kooperatif type think pair and share (TPS) dapat meningkatkan aktifitas siswa materi Pemisahan campuran pada siswa kelas VII E di SMP Negeri 1 Kwanyar Bangkalan sehingga suasana KBM tidak lagi berpusat pada guru namun sudah berpusat pada siswa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Arief, Alimufi. 1990. Model Pengajaran Fisika SMA dengan Pendekatan Keterampilan Proses.” Makalah disampaikan dalam pembinaan pengajaran Fisika dengan Pendekatan Keterampilan Proses guru-guru SMA se kotamadya Surabaya di kampus IKIP Ketintang Surabaya”.

Arikunto, Suharsimi. 1998. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Rineksa Cipta

Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama. 2004. Materi Pelatihan Terintegrasi. Jakarta : Departemen Pendidikan Nasional.

Djamarah, Syaiful B.2000. Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru. Surabaya : Usaha Nasional.

Poerwadarminta, W.J.S. 2002. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Nur, Muhammad dan Samani, Muchlas. 1997. Teori Pengembangan IPA dan Hakekat Pendekatan Keterampilan Proses. “Makalah disampaikan sebagai bahan kegiatan latihan kerja instruktur PKP IPA di Bandung tanggal 23 s.d. 27 Juni 1996”.

Purwanto, M. Ngalim. 2002. Psikologi Pendidikan. Bandung : PT Remaja Rosdakarya

Raharjo, Puji. 2009. Perbedaan antara Pembelajaran kooperatif type STAD dengan metode konvensional di SD negeri Tunjung 05 Burneh Bangkalan. Skripsi tidak di publikasikan. IKIP PGRI Bangkalan

Suhariyanto, Bambang. 1996. Pengaruh penggunaan LKS terhadap pemahaman Konsep IPA/ Fisika pada siswa SD Katolik Pecinta Damai Surabaya. Skripsi tidak dipublikasikan, IKIP Negeri Surabaya.

Suprihatiningrum, Jamil. 2012. Strategi pembelajaran teori dan aplikasi. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.

Suryosubroto, B.1997. Proses Belajar Mengajar di Sekolah. Jakarta : Rineka Cipta.

Trianto,2007. Model-model pembelajaran inovatif berorientasi konstruktivistik. Jakarta: Prestasi Pustaka.

Usman, Moh. Uzer. 2001. Menjadi Guru Profesional. Bandung: Remaja Rosdakarya

Widyaiswara, Tim LPMP Prov Jatim. 2011. Penelitian Tindakan Kelas ToT Guru Pendamping Diklat terakreditasi Provinsi Jawa Timur Tahun 2011. Surabaya : LPMP Jawa Timur.

 

 

 

 

 

 

 

Iklan